There was an error in this gadget
Visit My Awesome Photo's Galleries Other World's, Click Here to see!

Search This Blog

Loading...

Saturday, March 26, 2011

Diterbitkan Buku “Kelenteng-kelenteng Kuno di Indonesia”

Ditulis 30 Jan 2011 pukul 00:18
Acara peluncuran buku “Kelenteng-kelenteng Kuno di Indonesia” yang ditulis Asti Kleinsteuber dan Syagri M. Maharadjo dari tim Genta difasilitasi  Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI) dan Kemenbudpar. Buku setebal 420 halaman itu menampilkan foto-foto tentang keindahan dan keunikan kelenteng kuno yang banyak terbesar di tanah air. Dalam terbitan edisi pertama,  buku tersebut  dicetak sebanyak 2.000 eksemplar.

Selain itu buku tersebut juga akan menjadi salah satu sumber informasi yang menarik bagi masyarakat untuk mengetahui peninggalan kelenteng kuno yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia menjadi salah satu daya tarik untuk kegiatan wisata religi. Kelenteng kuno tersebut sebagai bukti bahwa masyarakat Tionghoa sejak ratusan tahun lalu telah memberikan kontribusi terhadap budaya di Indonesia. Dalam menerbitkan buku ini,  menurut Asti Kleinsteuber, mendapat dukungan penuh beberapa pihak di antaranya tokoh Marga Huang.

Buku ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin melakukan wisata religi, kata DR. Sapta Nirwandar, Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) ketika memberikan sambutan pada acara peluncuran buku  tersebut di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Kamis (27/1).

Ketua Perhimpunan INTI Rahman Hakim mengatakan, terbitnya buku Kelenteng-kelenteng Kuno ini diharapkan akan menarik minat wisatawan mancanegara (wisman) khususnya masyarakat Tionghoa yang tersebar di seluruh dunia untuk berkunjung ke Indonesia. "Kelenteng-kelenteng kuno ini menjadi daya tarik pariwisata Indonesia," kata Rahman.

Masyarakat umum di Indonesia banyak yang tidak memahami perbedaan klenteng dan vihara. Klenteng dan vihara pada dasarnya berbeda dalam arsitektur, umat dan fungsi. Vihara berarsitektur lokal dan biasanya mempunyai fungsi spiritual saja. Namun, vihara juga ada yang berarsitektur tradisional Tionghoa seperti pada vihara Buddhis aliran Mahayana yang memang berasal dari Cina. Sementara itu Klenteng pada dasarnya beraritektur tradisional Tionghoa dan berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat selain daripada fungsi spiritual.

Awal dari kerancuan pemahaman klenteng dan vihara dilatarbelakangi peristiwa G30S tahun 1965. Akibat peristiwa ini adalah pelarangan kebudayaan Tionghoa termasuk kepercayaan tradisional Tionghoa oleh pemerintah saat itu. Klenteng yang ada pada masa itu terancam ditutup secara paksa. Banyak klenteng yang kemudian mengadopsi nama Sansekerta atau Pali, mengubah nama sebagai vihara dan mencatatkan surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan dan kepemilikan. Dari sinilah kemudian masyarakat sulit membedakan klenteng dengan vihara. Setelah masa Orde Reformasi, banyak vihara yang kemudian mengganti nama kembali ke nama semula yang berbau Tionghoa dan lebih berani menyatakan diri sebagai klenteng daripada vihara atau menamakan diri sebagai Tempat Ibadah Tridharma (TITD).

Sumber:
http://budpar.go.id/


source : http://www.indonesia.travel/id/news/detail/281/diterbitkan-buku-kelenteng-kelenteng-kuno-di-indonesia

No comments:

Post a Comment

Blog Archive