There was an error in this gadget
Visit My Awesome Photo's Galleries Other World's, Click Here to see!

Search This Blog

Loading...

Tuesday, March 8, 2011

Lebah Penyerbuk dan Kisah dibalik itu...? Hmm.

Kisah Para Penyerbuk

Merekalah penyerbuk di bumi ini. Bentuk dan ukurannya beraneka ragam, lebih dari 200.000 macam.
Oleh JENNIFER S. HOLLAND
Foto oleh MARK W. MOFFETT
Tumbuhan tomat berdiri berbaris-baris di dalam rumah kaca di Willcox, Arizona. Tangkai hijau mencuat dari balok serat kelapa, menggapai langit panel kaca. Teknisi berjas lab di mobil listrik yang ditinggikan memepat tanaman itu dengan cermat.

Eurofresh Farms memanen sekitar 60 kilogram tomat per tahun dari tanaman yang sempurna ini, dipelihara di 125 hektare dalam gedung-gedung yang dilengkapi dengan berkilo-kilometer pipa untuk mengangkut air dan jaringan kawat besi di atas untuk menangkap sulur yang merambat. Buahnya yang mulai ranum agak berbau seperti buah tiruan, hanya harum tanpa bau tanah.

Namun, di sini juga ada kehadiran sesuatu yang alami. Kehadirannya terungkap sebagai dengung rendah yang menetap jauh di dalam telinga: seribu lebah yang bekerja keras.

Untuk bereproduksi, sebagian besar tumbuhan berbunga bergantung pada pihak ketiga untuk memindahkan serbuk sari di antara bagian jantan dan betinanya. Beberapa tumbuhan perlu dibujuk ekstra untuk melepaskan serbuk keemasan itu. Misalnya, bunga tomat perlu diguncang keras-keras, getaran yang kira-kira setara dengan 30 kali tarikan gravitasi bumi, demikian penjelasan ahli entomologi Arizona, Stephen Buchmann, koordinator internasional di Pollinator Partnership. “Skalanya berbeda,” katanya, “tapi ingat bahwa pilot jet tempur biasanya pingsan setelah mengalami empat sampai 6 g selama setengah menit.” Petani telah mencoba banyak cara untuk mengguncangkan serbuk sari dari bunga tomat. Mereka pernah menggunakan meja pengguncang, peniup udara, ledakan bunyi, dan penggetar yang diterapkan secara manual dengan susah payah pada setiap kelompok kembang. Tetapi, alat pilihan di rumah-rumah kaca masa kini? Lebah saja. Jika diberi akses ke bunga tomat, lebah bertengger dan bergetar keras sambil makan, melepaskan awan serbuk yang mendarat di kepala putik tumbuhan itu (ujung anatomi betina) dan juga menempel pada tubuh lebah yang berbulu. Dia lalu mengangkut partikel-partikel itu ke kembang berikutnya. Ini disebut penyerbukan lebah, dan sangat efektif.

Memang tidak mengherankan bahwa desain alamlah yang paling piawai melaksanakan tugas ini. Namun, yang menakjubkan adalah ragam pekerja yang melakukannya: Lebih dari 200.000 spesies hewan, dengan berbagai strategi, membantu bunga membuat bunga lagi. Lalat dan kumbang adalah penyerbuk pertama, sejak tumbuhan berbunga pertama muncul 130 juta tahun yang lalu. Soal lebah sendiri, ilmuwan telah mengenali sekitar 20.000 spesies sejauh ini, dan sekitar seperlimanya menyerbuki bunga di Amerika Serikat. Burung kolibri, kupu-kupu, rama-rama, tawon, dan semut juga mampu melakukannya. Keong dan lintah melumurkan serbuk sari saat merayap di atas kumpulan bunga. Nyamuk membawa serbuk sari untuk kumpulan anggrek, dan kelelawar, dengan aneka moncong dan lidah yang beradaptasi untuk makan dari beragam bentuk kembang, mengangkut serbuk sari untuk lebih dari 500 tumbuhan di seluruh dunia.

Mamalia nonterbang pun turut serta, opossum yang penyuka gula, beberapa monyet hutan tropis, dan lemur di Madagaskar, semuanya bertangan lincah yang merobek tangkai bunga hingga terbuka dan berbulu lebat yang ditempeli serbuk sari. Yang paling mengejutkan, beberapa kadal, seperti tokek dan bengkarung, menjilat nektar dan serbuk sari lalu membawanya pada muka dan kaki saat mereka melanjutkan mencari makan.

Tumbuhan berbunga—ada lebih dari 240.000 spesies—berevolusi seiring dengan penyerbuknya, menggunakan wangi dan warna cerah untuk menggoda dengan janji makanan. Mahkota bunga, seperti sistem transportasi hewan, sangat beraneka ragam, dari tabung dan kantong hingga kelopak, sikat, dan duri. Jika hewan dan bagian tumbuhan yang tepat dicocokkan—lidah panjang masuk ke tabung sempit, muka berbulu menempel pada sikat lengket—serbuk sari pun tersebar. Sayangnya, keragaman yang merepotkan ini tidak cocok untuk tanaman tunggal dan panen raksasa milik petani komersial modern. Sebelum perkebunan menjadi sebesar sekarang, kata ahli biologi pelestarian Claire Kremen dari University of California, Berkeley, “kita tidak perlu mengelola penyerbuk. Mereka ada di mana-mana karena lanskap juga beragam. Sekarang kita perlu mendatangkan pasukan untuk melakukan penyerbukan.”

Lebah madu Eropa, yang pertama kali diimpor ke koloni Amerika sekitar 400 tahun silam, adalah penyerbuk domestikasi utama di A.S. sejak orang mulai mengangkut lebah di jalan raya pada 19050-an. Kini sekurang-kurangnya seratus tanaman komersial di A.S. bergantung hampir sepenuhnya pada lebah kelolaan, yang dipelihara peternak lebah dan disewakan untuk menangani perkebunan besar. Dan meskipun spesies lebah lain—lebah Osmia, misalnya—lima hingga sepuluh kali lebih efisien per ekornya dalam menyerbuki buah-buah tertentu, lebah madu memiliki koloni lebih besar (30.000 ekor atau lebih per sarang), mencari makan lebih jauh, dan lebih menoleransi pengelolaan dan pemindahan daripada sebagian besar serangga. Mereka tidak pemilih—mereka menyerbuki hampir semua tanaman. Sulit menghitung nilai kerja mereka sesungguhnya; sebagian ahli ekonomi memperkirakan lebih dari $200 miliar per tahun secara global.

Namun, perkebunan berskala industri mungkin melemahkan sistem ini perlahan-lahan. Lebah madu telah terkena banyak penyakit dan serangan parasit sepanjang sejarah pengelolaannya, tetapi pada tahun 2006 terjadi pukulan yang berat. Di A.S. dan negara-negara lain, lebah mulai menghilang dalam jumlah besar saat musim dingin. Saat mengangkat tutup sarang, peternak lebah hanya menemukan ratu lebah dan beberapa ekor yang tertinggal, sementara lebah pekerjanya hilang. Di A.S., sepertiga hingga setengah dari semua sarang hancur; beberapa peternak lebah melaporkan kehilangan koloni hampir 90 persen. Biang keroknya yang misterius ini dinamai colony collapse disorder (CCD), dan masih merupakan ancaman tahunan—dan teka-teki.

Saat CCD pertama menyerang, banyak orang, dari ahli agronomi hingga masyarakat, berasumsi bahwa ini gara-gara pemakaian zat kimia di tanah perkebunan. Memang, kata Jeff Pettis dari USDA Bee Research Laboratory, “kami menemukan lebih banyak penyakit pada lebah yang terpapar pada pestisida, bahkan pada tingkat rendah.” Tetapi, kemungkinan besar CCD melibatkan beberapa pemicu. Gizi yang buruk dan pemaparan zat kimia, misalnya, mungkin menurunkan kekebalan tubuh lebah sebelum virus menghabiskan nyawanya. Sulit memisah-misahkan faktor dan hasil, kata Pettis. Kajian baru mengungkapkan bahwa fungisida—yang sebelumnya dianggap tidak beracun bagi lebah—dapat mengganggu mikrob yang menguraikan serbuk sari di dalam perut lebah, memengaruhi penyerapan gizi dan karenanya kesehatan jangka panjang dan masa hidupnya. Beberapa temuan menunjuk patogen virus dan fungi yang bekerja sama (lihat kotak, kiri). “Andai saja hanya satu agen yang menyebabkan semua penurunan ini,” kata Pettis. “Itu tentu sangat mempermudah penelitian kami.” Sementara lebah kelolaan terkena dampak negatif, demikian pula penyerbuk liar, yang pekerjaannya menyerbuki tanaman A.S. bernilai sekitar tiga miliar dolar per tahun. Beberapa spesies lebah penting kini jarang terlihat, sementara yang lain kian langka. Namun, beberapa kumpulan penyerbuk asli, yang tidak terlihat dan dinilai setinggi lebah madu yang mahal, telah dipantau dalam jangka panjang.

Sekarang harus bagaimana? Beri penyerbuk itu lebih banyak hal yang dibutuhkannya dan lebih sedikit hal yang tidak dibutuhkannya, dan kurangi beban pada lebah kelolaan dengan membiarkan hewan asli turut bekerja, kata ilmuwan. Pengurangan ketergantungan pada zat kimia dalam pertanian termasuk solusinya, kata Buchmann, karena semua hewan perlu sistem kekebalan tubuhnya berfungsi dengan baik untuk melawan patogen di lingkungannya.

Sementara itu, hilangnya dan berubahnya habitat, katanya, lebih berbahaya bagi penyerbuk daripada patogen. Claire Kremen mendorong petani membudidayakan tumbuhan di sekitar lahan pertanian untuk membantu memecahkan masalah habitat. “Perkebunan tidak bisa dipindahkan,” katanya, “tapi tumbuhan yang tumbuh di sekelilingnya dapat dibuat lebih beragam: di sepanjang jalan, bahkan di lapangan traktor.” Menanam pagar tanaman dan bunga asli yang mekar pada waktu yang berbeda-beda, serta menanam benih di ladang dengan beberapa spesies tanaman, alih-alih tanaman tunggal "tidak hanya lebih baik bagi penyerbuk asli, tetapi juga merupakan praktik pertanian yang baik," katanya.

Buchmann menambahkan, perlindungan bunga liar tanpa pestisida juga akan mendorong pertumbuhan populasi serangga yang bermanfaat, seperti lebah Osmia lignaria—penyerbuk kenari yang sangat efektif di California. Kumbang lilin asli di Wisconsin tidak terlalu terganggu soal cuaca yang dingin dan basah seperti lebah madu. Jadi, jika lanskap dikelola demi kepentingan mereka, pada awal musim semi akan ada lebih banyak lebah di perkebunan. Di kota yang paling ramai pun, penyerbuk dapat dimanjakan dengan sedikit kreativitas. Kajian baru-baru ini menunjukkan bahwa lebah di luar pertanian memiliki pola makanan yang lebih beragam dan lebih sehat daripada yang hidup di pertanian tanaman komersial. Sarang lebah di atap di Kota New York membantu taman kota dan dedaunan di Central Park tumbuh rimbun. Dan ahli ekologi ini kini mengubah sebagian tanah yang dulunya merupakan timbunan tanah 890 hektare di Pulau Staten menjadi padang rumput berbunga untuk menyediakan gula bagi penyerbuk asli.

Perhitungannya cukup sederhana. Jika ada habitat, mereka pasti datang. Untungnya juga, “tumbuhan generalis jauh lebih banyak dari tumbuhan spesialis, jadi ada banyak redundansi dalam penyerbukan,” kata Buchmann. “Sekalipun ada satu penyerbuk yang mogok, biasanya masih ada pengganti yang cukup baik untuk mengambil alih tugasnya.” Kunci untuk menjaga agar kebun kita terus berlimpah, katanya, adalah dengan membiarkan keragaman.

Jika keragaman itu disingkirkan, kita akan kehilangan lebih dari madu. Banyak tumbuhan berbunga akan hilang, beserta buah apel, persik, pir, dan berbagai tanaman lain. Tanpa penyerbuk, tak akan ada raspberry, blueberry, atau bahkan susu untuk serealia (sapi makan alfalfa dan semanggi yang diserbuki lebah). Tak ada kopi atau cokelat. Tak ada canola atau tanaman bahan bakar hayati. Tak ada lagi semangka musim panas atau labu Halloween. Petani kenari di A.S., yang menyediakan 80 persen buah ini di dunia, mempekerjakan sepertiga atau lebih sarang lebah komersial di negara itu pada musim tumbuh—pertunjukan lebah yang disebut sebagai peristiwa penyerbukan terbesar di bumi. Itu juga akan menghilang.

“Kita tak akan kelaparan,” kata Kremen. Namun, tanpa burung dan lebah (serta kelelawar dan kupu-kupu), makanan kita, dan bahkan pakaian kita—kan penyerbuk juga terlibat dalam produksi kapas dan rami—akan terbatas pada tanaman yang serbuk sarinya tersebar dengan cara lain. “Boleh dibilang,” katanya, “hidup kita akan didikte oleh angin.”

(source : http://nationalgeographic.co.id)

No comments:

Post a Comment