There was an error in this gadget
Visit My Awesome Photo's Galleries Other World's, Click Here to see!

Search This Blog

Loading...

Saturday, March 26, 2011

Film Dokumenter Teluk Tomini Laris di India

Ditulis 18 Jan 2011 pukul 18:38
Dalam konferensi IASC (International Association for the Study of the Commons) di Hyderabad India bagian Selatan, film dokumenter mengenai Teluk Tomini laris habis dibagikan. Film dokumenter ini disiapkan oleh program Teluk Tomini atau Tomini Bay Sustainable Coastal Livelihoods and Management (SUSCLAM) yang turut diundang dalam konferensi bergengsi tersebut. Konferensi yang rutin diselenggarakan setiap dua tahun sekali ini bermanfaat bagi pemerintah dan praktisi dalam melaksanakan mengambil kebijakan pengelolaan sumberdaya milik bersama.
SUSCLAM adalah organisasi non-pemerintah yang bermarkas di Gorontalo, fokus pada pemberdayaan sumber daya pesisir di kawasan Teluk Tomini yang meliputi sebagian wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Gorontalo, khususnya konservasi hutan mangrove.
IASC adalah Asosiasi Internasional untuk Ilmu-ilmu mengenai `commons` yang didirikan oleh Penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2009, sekaligus guru besar di Indiana University, Amerika Serikat. Dr. Elinor Ostrom. "Commons" adalah ilmu yang mempelajari mengenai sumberdaya yang tidak bisa dibatasi kepemilikannya dan bisa diakses oleh orang banyak seperti hutan, laut, pesisir, danau, dan sebagainya.

Film dokumenter Teluk Tomini berdurasi 20 menit pertama kali diluncurkan pada Desember 2009. Dalam konferensi ini, Program Teluk Tomini menempati ruang khusus di bagian Exshibition untuk mempresentasikan poster kepada pengunjung yang datang ke pameran.
Teluk Tomini sendiri merupakan salah satu teluk yang terbesar di Indonesia. Teluk ini menjadi bagian wilayah dari 13 kabupaten yang meliputi Provinsi Sulawesi Tengah dan Gorontalo.  Di tengah-tengah Teluk Tomini ini, terdapat 56 rangkaian pulau-pulau yang dikenal dengan Kepulauan Togean yang panjangnya membentang hingga 90 kilometer. Enam pulau di antaranya termasuk yang kategori besar, yaitu Pulau Una-Una, Batulada, Togean dan Talatakoh, Waleakodi dan Waleabahi.
Di teluk ini, terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya, dan seakan menjadi surga bagi para penyelam. Selain karena terumbu karangnya yang indah, berbagai jenis ikan juga hidup di sini. Selebihnya adalah pulau-pulau kecil yang indah. Di pulau-pulau kecil itu menjadi kawasan wisata yang setiap saat ramai dikunjungi wisatawan asing dari Eropa. Pulau-pulau ini yang mengelilingi enam pulau besar tersebut.

Tahun 2003, ketika Megawati Soekarnoputri menjabat Presiden RI, telah dicanangkan teluk tersebut sebagai Pintu Gerbang Mina Bahari. Dengan potensi perikanan dan kelautan di dalamnya dapat menambah devisa negara, sekaligus dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Sayangnya, laporan dari Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS), menunjukkan fakta miris bagi teluk itu. BKPRS menilai, beberapa teluk di wilayah Sulawesi, termasuk Teluk Tomini, mengalami kerusakan akibat kurang serasinya pembangunan kawasan darat dan laut. Kerusakan ekosistem yang parah misalnya, meliputi kehancuran terumbu karang, hutan bakau, serta diperparah dengan kerusakan sejumlah daerah aliran sungai yang bermuara ke Teluk Tomini. Kerusakan itu dapat disaksikan di Taman Nasional Kepulauan Togean yang terletak di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Kerusakan itu diakibatkan adanya illegal fishing yang dilakukan warga sekitar. Termasuk juga adanya pembuangan sampah ke laut. UNESCO telah menetapkan Teluk Tomini sebagai salah satu kekayaan dunia yang patut dilindungi. Pasalnya, di teluk ini menyimpan potensi laut yang sangat menjanjikan.

Luas keseluruhan Kepulauan Togean mencapai sekitar 411.373 ha, dan luas Kabupaten Tojo Una-Una yang berhadapan langsung dengan Togean, sekitar sekitar 5.721,15 km bujur sangkar. Di kawasan inilah yang paling banyak mengalami kerusakan. Pemerintah provinsi Sulawesi Tengah melaporkan, potensi sumberdaya ikan di perairan tersebut, mencapai sekitar 330.000 ton per tahun yang dapat dikelola secara lestari sekitar 214.000 ton per tahun.
Foto Courtesy : dunialaut.com

No comments:

Post a Comment

Blog Archive