There was an error in this gadget
Visit My Awesome Photo's Galleries Other World's, Click Here to see!

Search This Blog

Loading...

Friday, April 1, 2011

Segarnya Soto Ikan Gurame

Editor: I Made Asdhiana
Sabtu, 26 Maret 2011 | 07:36 WIB
Dibaca: 1729
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Pengunjung menikmati soto ikan gurame di rumah makan Ciriung Indah, Jalan Mayor Oking, Ciriung, Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/3/2011). Soto ikan gurame menjadi menu spesial yang banyak diburu para pelanggan dari sejumlah wilayah di Jabodetabek.
Oleh: Budi Suwarna
Jam makan siang telah tiba. Sekitar 50 orang datang hampir bersamaan ke Warung Ciriung Indah, Cibinong, Jawa Barat. Apa yang mereka incar? Semangkuk soto ikan gurame nan gurih dan segar.
Lia (30), karyawan sebuah perusahaan ban, ada di antara pengunjung warung yang terletak di Jalan Mayor Oking Nomor 123, Cibinong, Bogor, itu. Dia datang bersama tujuh temannya khusus untuk menyantap soto ikan gurame.
Mereka menunggu sekitar 30 menit sebelum pesanan soto ikan datang. Selama menunggu, salah seorang di antara mereka, yang tampak sudah tidak sabar, melongok ke dapur warung. ”Waduh, kok lama ya,” katanya.
Ketika soto ikan itu datang, wajah mereka langsung berseri-seri. Mereka hirup aroma soto berwarna kuning yang harum rempah itu dalam-dalam. Selanjutnya, mereka menyantap dua mangkuk besar soto ikan itu bersama-sama hingga tandas.
”Kami biasanya datang tiga kali seminggu. Soto ikan dan gurame bumbu rujak di sini bikin kami kangen,” ujar Lia, Selasa (1/3/2011) lalu.
Soto ikan gurame menjadi salah satu menu primadona di warung yang terletak sekitar tiga kilometer dari pintu tol Citeureup itu. Rasanya amat segar. Jejak gurih daging gurame, rasa asam, pedas, dan asin kuahnya seolah tertinggal di lidah meski masakan itu telah berpindah ke perut. Seusai menyantap soto ikan, keringat pun bisa langsung bercucuran.
Soto ikan dimasak secara mendadak begitu ada pesanan. Ikan gurame yang digunakan masih segar karena diambil dalam keadaan hidup dari kolam penampungan ikan di belakang dapur. Bumbunya terdiri dari cabai, bawang, serai, kunyit, jahe, dan belimbing wuluh. Harga per mangkuk soto dihitung berdasarkan berat ikan gurame. Satu ons ikan dipatok Rp 8.000. Satu porsi rata-rata 8 ons dan bisa dimakan 3-4 orang.
Menu favorit lain di warung tersebut adalah sop buntut sapi. Pembeli bisa memesan sop buntut sapi goreng atau bakar yang diolah dengan bumbu yang rasanya seperti saus sate. Daging sapi sangat empuk karena dimasak dengan api kecil dalam waktu berjam-jam. Saking empuknya, kita bisa meloloskan daging dari tulang buntut dengan mudah. Satu porsi sop buntut biasa dibandrol Rp 27.500, sop buntut goreng atau bakar Rp 32.500.
Warung lama
Warung penyaji soto ikan gurame ini dikelola Rina (35) bersama mertuanya, Liliana (62). Rina mengatakan, Warung Ciriung Indah didirikan Liliana tahun 1986 ketika Jalan Mayor Oking belum diaspal dan baru satu jalur. Awalnya, Liliana menjual sop buntut, nasi rawon, dan soto ayam. Seiring dengan kian banyaknya jumlah pelanggan, menu di warung tersebut juga ditambah.
Sekitar 15 tahun yang lalu, Liliana mulai membuat soto ikan gurame. Awalnya, almarhum anak pertamanya bercerita tentang soto ikan lezat yang pernah disantapnya di sebuah tempat. Dari situ, Liliana bereksperimen memasak soto ikan gurame. ”Ternyata, soto ikan buatan saya disukai banyak pelanggan dan bertahan sampai sekarang,” kata Liliana, yang masih turun ke dapur untuk mengontrol rasa masakan olahan dua juru masaknya.
Pelanggan Warung Ciriung, lanjut Liliana, berasal dari berbagai kalangan. Dulu, orang-orang Jakarta yang suka bermain golf di Gunung Putri, Bogor, sering mampir ke warungnya untuk menyantap sop buntut. ”Kalau sekarang, pelanggannya lebih banyak karyawan pabrik di sekitar Cibinong dan kesukaan mereka soto ikan,” ujar Liliana.
Di akhir pekan, lanjutnya, rombongan penggemar sepeda yang melintas di kawasan Cibinong juga kerap mampir di warung tersebut. ”Lumayan, meski tidak seramai dulu, warung ini masih tetap bertahan dan punya pelanggan,” kata Liliana.
Rina menambahkan, sejak lalu lintas di Pasar Cibinong dan Pasar Citeureup sering macet, sebagian pelanggan malas mampir ke Warung Ciriung. Mereka lebih senang memesan lewat telepon. ”Kami akan mengantarkan pesanan mereka,” ujar Rina.
Tanpa sengaja, lanjut Rina, warungnya menjalankan sistem penjualan pesan-antar (delivery) sejak setahun yang lalu. Pesanan awalnya hanya datang dari pabrik-pabrik di sekitar Cibinong, belakangan pesanan juga datang dari perusahaan-perusahaan di Jakarta.
”Saya pernah dapat pesanan soto ikan 18 kilogram, belum termasuk kuahnya, dari sebuah kantor di Semanggi, Jakarta. Karena mobil sedang tidak ada, kami mengantarnya dengan naik bus kota,” ujar Rina sambil tertawa.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive