There was an error in this gadget
Visit My Awesome Photo's Galleries Other World's, Click Here to see!

Search This Blog

Loading...

Sunday, March 13, 2011

Gunung Api Tidur Diperkirakan Bangun Lebih Cepat

Oleh Alex Pangestu  | Jumat, 11 Maret 2011 | alam dan lingkungan

Gunung Api Tidur Diperkirakan Bangun Lebih Cepat
Yohanes Prahara
 
Gunung api yang sedang tidur bisa bangun lebih cepat dari perkiraan.

Para ahli geologi dari University of Washington membuat model gunung api baru dan mereka mendapatkan bukti kalau gunung api tak aktif bisa bangun lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. "Perpindahan panas ke sistem magma jauh lebih efisien dari yang pernah kami sangka," jelas George Bergantz, salah seorang ahli geologi yang turut dalam studi.

Gunung api memiliki bilik yang berisi bubur magma yang liat. Agar gunung api dapat kembali aktif, bubur ini harus dipanasi oleh magma baru dari lapisan Bumi yang lebih bawah. Menurut teori, butuh waktu ratusan hingga ribuan tahun agar panas bisa mencapai bilik dan membuat magma cukup cair untuk erupsi. Model gunung api yang baru mendapati kalau magma baru lebih mudah tercampur dengan bubur magma yang sudah ada di bilik. "Karena itulah 'kebangkitan' bisa terjadi lebih cepat," kata Bergantz.

Tim peneliti membandingkan model buatan mereka dengan dua erupsi, Gunung Pinatubo di Filipina yang meletus 1991 dan Soufriere Hills yang sedang meletus di daerah Montserrat. Peneliti menganalisis temperatur magma, ukuran bilik, serta segi fisik lain untuk mengetahui rentang waktu antara peringatan pertama hingga letusan.

Di Pinatubo, tim menemukan bahwa bilik magma butuh waktu 20 hingga 80 hari untuk aktif kembali. Berdasarkan teori konvensional, bilik ini harusnya aktif dalam waktu 500 tahun.

Meskipun aktif lebih cepat, Bergantz menjelaskan, "Model ini tidak memprediksikan kalau kebangkitan gunung api selalu berakhir pada letusan."

Michael Petronis, ahli geologi dari New Mexico Highlands University di Las Vegas, menyebutkan model ini merupakan hasil kerja yang baik. Meskipun demikian, ia menemukan beberapa kelemahan. "Proses pencampuran magma dikendalikan oleh kemampuan mengapung sehingga magma panas naik ke bilik penyimpanan dan mengubah bubur lengket. Teori ini tidak menjelaskan keseluruhan proses pencampuran," katanya. Ia menjelaskan kalau magma panas memang naik, tapi tidak akan tercampur dengan magma yang sudah ada di sana. "Magma itu tidak cukup panas untuk melelehkan segalanya," jelasnya.

Bergantz menjelaskan kalau model penelitiannya merupakan langkah pertama dari sebuah proses yang sangat rumit. "Masih sedikit hal dipahami," katanya. (Sumber: National Geographic News)
http://nationalgeographic.co.id

No comments:

Post a Comment

Blog Archive