There was an error in this gadget
Visit My Awesome Photo's Galleries Other World's, Click Here to see!

Search This Blog

Loading...

Saturday, February 26, 2011

Sufi Nyentrik Nasrudin Joha & Misteri Kota Terlarang

Nasrudin Joha & Pasien disambangi oleh Pejabat Marcopolo Utusan Kubilai Khan Part - 1

..."Hanya ada 1 tempat yang ada di ujung jalan itu...! batin Marcopolo.
"...TEMPAT PEMAKAMAN..." { tak ada Masjid,tak ada rumah...kenapa dia ada di sini..!#@$... Siapa Nasrudin Joha..? sampai Yang Mulia Kubilai Khan mengharap bantuannya,sehebat itukah dia..! ah,sebaiknya kupastikan dulu,aku harap bukan dia dan aku bisa langsung pulang menghadap Yang Mulia?...} "batin panjang Pejabat Marcopolo.

"Tempat Pemakaman"....Orang China dan Mongol pada umumnya membakar jenazah mereka. Namun orang Hui - dan semua Muslimin pada umunya - menguburkanya,sesuai ajaran islam.
Aku (Marcopolo) sudah hampir berbalik,saat aku mendengar sesuatu dari tempat itu. Seperti suara orang sedang berbicara. Kuputuskan untuk memastikan memang tak ada yang kucari disini sebelum kembali. Aku turun dari kuda dan melangkah masuk.
Aku kaget menyaksikan kejadian aneh di dalam area pemakaman itu. Aku melihat 4 orang lelaki. 3 orang duduk berbaris dibelakang sebuah makam yang baru digali. Yang paling depan seorang Arab bersorban,dibelakang seorang pemuda China yang sedang menangis,di belakangnya adalah Rahib tua yang bersedekap dengan agungnya. Sementara di depan mereka,di seberang liang kubur,tampak seekor keledai merumput dengan acuhnya. Setelah kuperhatikan,ada satu hal yang membuatku berhenti dan tidak jadi mendekat.
Si Arab itu sedang berbicara dengan keledai. "Tolong saya Nasrudin,"katanya dengan nada memelas."Saya benar-benar senewn.saya tidak betah tinggal dirumah sendiri. Rasanya seperti di dalam neraka. Istri dan mertua saya tiap hari kerjanya mengomel terus. Dari pagi hingga pagi lagi. Dan anak-anak saya memperlakukan seluruh ruangan sebagai medan perang Badar. Semua kacau dan ribut. Bagaimana saya bisa istirahat?"
Terdengar batuk yang keras, disusul suara serak bertanya,"Kau inin tinggal dirumah dengan perasaan nyaman?"
Aku (Marcopolo) terpana. Bukan keledai itu yang berbicara.Tapi bukan berarti berkurang keanehannya. Suara itu berasal dari dalam liang kubur!
Si orang Arab mengangguk-angguk sampai sorbanya mau jatuh. "Tidak ada yang lebih kuinginkan selain itu."
"Gampang kalau begitu," suara serak itu terdengar lagi.
"Bagaimana?" Si orang Arab berbinar penuh harap.
"kau punya kuda?" suara serak itu balik bertanya.
"Dua," jawab si orang Arab.
"Lembu?"
"Tiga."
"Kambing?"
"Selusin."
"Ayam?"
"Banyak."
"Di mana kau menaruh mereka?"
"Dalam satu kandang."
"Bagus," suara serak itu terdengar puas. "Mulai besok,kau pindah ke kandang dan tinggal disana selama sebulan. Dijamin setelah itu kau akan merasa lebih nyaman tinggal di rumah. Kau bisa melakukannya? "Ya,tuan." jawab si orang Arab. "Bagus." balas Nasrudin. Biaya konsultasiku sepuluh Dukat. Pasien berikutnya!"
Aku (Marcopolo) ternganga. Itu cara pemecahan paling gila yang pernah kudengar. Sara yang hanya mungkin keluar dari mulut orang yang tidak waras. Tapi sesaat kemudian,setelah kupikir-pikir,aku baru menyadari sesuatu.
Itu juga saran yang jenius!
Setelah si oarang Arab membayar biaya konsultasi dan pergi, kini giliran si pemuda China beringsut ke tepi liang kubur. Air matanya masih terus menetes.
"Ada masalah apa, koh?" suara itu bertanya dengan bahasa China yang fasih.
"Kau harus menolongku, Mullah." Suara orang China ini jauh lebih memelas lagi. "Aku tidak bisa tidur,tidak bisa makan dan rasanya ingin mati saja."
"itu artinya cuma satu,patah hati."
Orang China itu mengangguk."Kekasihku pergi meninggalkan aku. Dia kabur dengan seorang saudagar kaya dari Siam. Aku ingin dia kembali padaku. Bagaimana caranya?"
Orang China itu berhenti. Menunggu yang di tanya menjawab. Tapi,entah kenapa tidak ada sahutan yang terdengar. Kuburan itu sesunyi...Kuburan.
"Mullah?" si orang China bertanya lagidengan heran. "Kenapa engkau malah diam saja?"
Terdengar batuk tertahan. seperti batuk orang tersedak.
"Kau benar-benar ingin kekasihmu kembali?"
"Hanya itu yang kuinginkan sekarang!"
"Baiklah,terima ini." Sebuah kantung kecil terlontar dari dalam liang kubur.
"Apa isinya, wahai Mullah?"
"Tanah kuburan."
"Tanah kuburan?"
"Kau tak salah dengar." jawab sang Mullah.
"Apa yang harus kulakukan dengan tanah kuburan ini?"
"Taburkan itu ke halaman rumahnya. Niscaya dia akan kembali kepadamu."
"Terima kasih, Mullah."
"Biayanya sepuluh Dukat."
"Aku akan memberimu dua puluh Dukat."
"Terserah." jawab sang Mullah.
Orang China itu mulai bangkit dan hendak beranjak pergi dengan wajah berseri.
"Tunggu." Tiba-tiba suara serak itu memanggilnya lagi.
"Ya, Mullah?"
"Kau juga harus membawa ini."
Sebuah sekop terjulur dari dalam liang kubur.
"Untuk apa?" tanya si oarang China.
"Kau harus mulai berlatih dri sekarang,agar saat menggantikanku kelak, kau tak akan gampang kena encok sepertiku."
Si orang china itu terperanjat. "Menggantikanmu?" Mengapa aku ingin menggantikanmu?"
"Kau akan menjadi sepertiku kalau kau pakai jampi itu"
"Aku...aku tidak mengerti maksudmu?" jawab si orang China.
Terdengar helaan napas. "Kau tahu kenapa aku disini?" Tanya sang Mullah pada orang China.
Orang China itu menggeleng.
Kembali terdengar batuk keras disusul deham untuk melancarkan tenggorokan. "Kau tahu, Nak , Sungguh salah kalau asmara itu di istilahkan jatuh hati. Saat kita di mabuk cinta, yang jatuh bukanlah hati, melainkan akal sehat kita. Seperti yang kau lakukan sekarang, aku dulu minta jampi-jampi untuk mendapatkan seorang perempuan bermuka dua seperti yang kau kejar itu.
Jampi-jampi itu berhasil. Tapi apa yang kudapat sekarang? Hidup bertahun-tahun dalam pertengkaran sebelum ditendang dari rumahku sendiri, bahkan harus minggat dari negeriku sendiri, hanya dengan baju yang melekat dan seekor keledai tolol. Beruntung Mullah Umar mau menampungku tingal di masjidnya sekaligus mempekerjakan aku sebagai tukang gali kubur. Nah, karena kau melakukan hal yang sama untuk seorang perempuan yang sama, aku yakin nasibmu aka sama sepertiku. Jadi tukang gali kubur."
Orang China itu menggeleng. "Tidak, aku tidak akan bernasib sepertimu. Dia tak akan melakukan hal seperti itu padaku."
"Kenapa tidak?" balas sang Mullah.
"Karena dia tidak sejahat itu. Kekasihku orangnya lembut dan penyayang." jawab si orang China.
"Kalau memang dia tidak sejahat itu, kenapa dia tega meninggalkanmu?" tanya sang Mullah.
Orang China itu terdiamsejenak. "Dia...dia hanya terpengaruh oleh kekayaan orang Siam itu."
"Apakah perempuan yang gampang terpengaruh oleh harta itu bukan perempuan yang jahat? Mungkin saja bukan. Tapi, apa kau yakin ingin hidup selamanya dengan perempuan yang mudah silau oleh harta orang lain? kau yakin perempuan seperti itu yang kau inginkan?"
Hening. Orang China itu berhenti menangis. Ia menimbang-nimbang kantung di tangannya. "Tapi aku mencintainya..."
"Seperti kubilang tadi, cinta itu berbanding terbalik dengan akal sehat. Siapa pun jadi idiot kalau sedang dilanda cinta." jawab sang Mullah.
"Aku tidak bisa melupakanya," si orang China bersikeras.
"Makanya, bawa sekop ini dan mulailah berlatih menggali kubur dari sekarang."
Orang China itu menatap sekop yang diacungkan di depan hidungnya, lalu ia menunduk ke kantung tangannya. "Mungkin lebih baik aku bunuh diri saja, biar dia tahu betapa dalamnya cintaku padanya."
Terdengar suara dengusan dan suara terkekeh yang serak dari lubang kubur. "Ya, mungkin dia akhirnya akan
tahu. Lalu kenapa? Kau mengharap dia berduka dan mengenangmu selamanya? Kau pikir perempuan yang sampai hati meninggalkan kekasihnya akan berlaku demikian? Kurasa tidak. Paling dia hanya kaget sebentar. Lalu hari demi hari berlalu, dan kehidupan kembali normal, dia melahirkan anak, punya tetangga baru, bercanda dan tertawa lagi. Hei, mungkin dia akan menjadikanmu sebagai bahan obrolan sore sebelum kembali ke kamar dan melayani orang Siam itu dengan mesra."
"Sudah, hentikan," Orang china itu menyeka air matanya dan menarik napas dalam-dalam. "Mungkin kau benar, Mullah. Aku memang pecundang yang bodoh."
kau ingin dunia mengenangmu sebagai pecundang yang bodoh, Nak?"
"Kurasa tidak..." sahut orang China itu dengan nada menggantung. Perlahan diletakkanya kantong berisi tanah di dekat liang kubur. Ia idak jadi membawanya.
"Pulanglah," suara serak itu tiba-tiba terdengar serius dan bijaksana. "Menangislah di kamar dan pecahkan semua barang dirumahmu seakan-akan semua itu adalah si orang Siam atau kekasihmu. Lakukan itu tiga kali sehari selama hatimu masih merasa sakit. Melampiaskan emosi adalah obat paling mujarab untuk patah hati dan semua gangguan jiwa lainnya. Emosi yang terpendam hanya akan membuatmu sinting atau menderita borok usus. Jika kau melakukannya secara teratur dan disiplin, paling lama sebulan lagi kau akan merasa jauh lebih baik. Tuh, kau sudah bisa meringis sekarang. Bawa kembali uangmu. Kau membutuhkannya untuk mengganti semua barang yang kau pecahkan nanti."
Orang China itu beranjak pergi sambil merenung. Aku (Marcopolo) juga mengamati dari jauh. Kuputuskan untuk menuungu sampai "pasien" yang terakhir mendapat gilirannya. Sang Rahib berdiri dengan sikap menantang di tepi liang kubur.
"Ada masalah, Rahib?" tanya suara serak itu.
"Aku tidak punya masalah, orang tua," sahut Rahib itu cepat.
"Jadi kau ingin memesan liang kubur?" tanya sang Mullah.
"Tidak. Aku ingin menantangmu." jawab sang Rahib.
"Siapa paling sepat menggali kubur...?" tanya sang Mullah.
"Tidak, tidak." Rahib itu menggelengkan dengan sebal. "Beberapa orang menganggapmu sinting, tapi sebagian menganggapmu sufi atau wali dengan kecerdasan yang tak terjangkau otak normal. Beberapa jemaahku malah ada yang menganggapmu Santo. Aku ingin membuktikan mana yang benar."
"kau akan menggantungku dan melihat apakah aku akan bangkit di hari ketiga?" tanya sang Mullah pada Rahib.
"Tidak. Aku hanya mengajukan beberapa pertanyaan." jawab sang Rahib.
"Apa pertanyaan itu?" tanya sang Mullah.
"Penganut agama apa yang lebih akarab dengan Tuhan?" Rahib memulai mengajukan pertanyaan.
"Muslim, tentu saja." jawab sang Mullah.
"Kenapa?" tanya sang Rahib.
"Sebagian memanggil-Nya 'Bapa', sebagian lain memanggil 'Om', tapi orang Muslim langsung memanggil nama panggilan-Nya."
"Bisakah Yang Maha Kuasa menciptakan sesuatu yang tidak bisa dikuasai-Nya?" tanya sang Rahib.
"Kau harus melihat istriku." jawab sang Mullah.
"Mengapa Tuhan menciptakan Neraka?" tanya sang Rahib.
"Untuk menampung orang yang mengajukan pertanyaan semacam itu."
"Bisakah seekor keledai masuk kerajaan Surga?" tanya sang Rahib.
"Aku tak ingin menyinggung perasaanmu." jawab sang Mullah.
Rahib itu tertawa terbahak-bahak.
"Sudah puas?" tanya sang Mullah.
"Satu lagi,ini pertanyaan pamungkas!"
"Silakan."
"jika kau memang seorang sufi yang cerdas, kenapa engkau sampai kalah dengan istrimu?"
Suara serak itu menjawab, "Menurutmu siapa yang menyebabkan Nabi Adam dibuang dari Surga?"
Rahib itu terpingkal-pingkal.
"Bagaimana kesimpulanmu, aku ini cendekia atau gila?" tanya sang Mullah.
"Kurasa dua-duanya." jawab sang Rahib.
"Kesimpulan yang bagus. Biayanya seratus Dukat. kau mengajukan banyak sekali pertanyaan. Pasien berikutnya!"
Sambil terpingkal-pingkal, rahib itu akhirnya pergi. Saat itulah aku (Marcopolo) melangkah mendekati liang kubur, penasaran seperti apa sosok yang mampu melontarkan ucapan gila dan cerdas dalam waktu bersamaan itu.
Aku agak kecewa.
Yang klihat adalah sesosok pria tua yang kurus dan agak bungkuk. Hidungnya panjang dan bengkok. Kumis dan jenggot putihnya yang tidak terawat dibiarkan tumbuh panjang sampai ke perut. Kedua matanya melesak ke dalam kelopak, sehingga kelihatan seperti dinaungi bayangan gelap. Mata itu agak aneh. Melotot namun menerawang. Seperti pandangan orang melamun,merenung, atau gila. Ia mengenakan sorban Persia putih yang terlalu besar untuk kepalanya, dan jubah panjang yang sudah bulukan. Penampilannya seperti versi buruk dari Santa Klaus. Ia sedang duduk santai di dasar kuburan sambil memegang sekop yang belepotan pasir. rupanya, ia adalah penggali kubur. Beberapa keping uang -yang rupanya ia dapat dari kerja sambilan sebagai penasihat amatiran tadi- menonjol keluar dari dalam kantung yang diikat di pinggangnya.
Beberapa saat kami saling memandang. Mungkin penampilanku juga tampak aneh di matanya. Lalu, sebagai tamu yang baik aku menyapa lebih dulu, "Anda pasti Mullah Nasrudin Joha?"
Di luar dugaanku, seperti yang lainya, ia pun terkekeh serak......TO BE CONTINUE<a href="http://daenkblog.blogspot.com/Copy Paste/trackback/">.</a>.

No comments:

Post a Comment