Visit My Awesome Photo's Galleries Other World's, Click Here to see!

Search This Blog

Showing posts with label Heart 2 Heart. Show all posts
Showing posts with label Heart 2 Heart. Show all posts

Friday, March 25, 2011

Thinking and thought for the people, sir ..!

yang harus memulai perubahan

oleh Permana Reza pada 25 Maret 2011 jam 9:16
suatu ketika ,,sang pejabat bercengkrama pada sebuah acara ,,dia berpidato

"bagaimana negara ini bisa damai!,jika dikanan maling dikiri penipu didepan penjahat,dibelakang pembohong,dan smakin banyak lagi tiap Tahunya!!!,saya sebagai orang terpelajar bnar2 merasa malu ada di negeri ini, setiap beberapa langkah ada saja orang-orang kumuh dan peminta-minta,jadi bagaimana bisa negara ini berubah jika penyakit penyakit kecil dimasyarakat seperti itu telah banyak, jadi saya disini ingin mengatakan kepada saudara-saudara pendengar bahwa jangan cuma bisa menuntut kepada yang diatas! andalah yang dibawah andalah yang terkecil jadi disitulah kita mulai perubahan!,terima kasih..

setelah pejabat itu turun kemudian seorang remaja melewati beberapa orang dan memegang langsung mikrofon didepannya,

"pak saya ingin menambahkan disini,saya tak ingin beragumen dengan anda ,karna saya tau,anda seribu kali lebih baik dari saya,jadi saya bukan ingin jadi yg paling benar setelah ini, tapi menurut saya adanya penyakit penyakit seperti mereka adalah karena orang orang yang lebih dulu pandai di negeri ini yang dengan tega memperkaya dirinya,dan memutus hak dan kewajiban orang orang banyak. Disini saya tekankan orang yang lebih pandai lebih dulu, dalam artian orang yang pandai dahulu mendapatkan hak dan kewajiban yang semestinya,sehingga semiskin-miskinnya dia ,dia tetap punya kesempatan untuk merubahnya ,berbeda dengan sekarang pak,,orang pandai tetapi jika ia miskin,tetap saja ia sangat seribu sangat, sulit untuk keluar dari kemiskinan,ya karna itu! terputus sudah hak dan kewajibannya dimana seharusnya dia dapat bersaing dengan adil.

Kemudian sebagian dari orang-orang pandai tersebut menjadi penipu dan pembohong hebat!dan itu karna sistem negara ini juga, jadi saya berterimakasih pada negara ini untuk kehadiran penipu dan pembohong.
kemudian karna diskriminasi akibat dari terputusnya hak hak rakyat ,lahirlah pencuri dan penjahat hebat! dan karena itu saya berterimakasih pada negara ini karna telah mengglembeng saudara-saudara saya untuk terbiasa hidup dalam tekanan,saya berterima kasih untuk kehadiran pencuri dan penjahat.
dan kemudian yang terakhir karna kemiskinan akibat dari diambilnya hak hak rakyat yang terlantar,lahirlah mereka orang orang kaya yang rumahnya beratapkan langit,dan bertembok angin,juga lahirlah orang-orang dengan tangan terbuka, yang penuh kerendahan disetiap lampu kota dan jalanan,dan karna itu, lagi lagi saya berterima kasih kepada negeri ini,karna telah mendidik rakyatnya untuk terbiasa hidup dialam keadaan apapun,untuk bisa hidup dengan makan apa saja , DAN UNTUK BISA HIDUP TANPA MUKA MALU SEPERTI INI!!DAN TERIMAKASIH YANG SEDALAM DALAMNYA TELAH MENDIDIK RAKYATNYA SENDIRI UNTUK BERSABAR DAN SELALU BERSABAR MENJALANI HIDUP YANG BERAT BERTAHUN TAHUN INI.

kembali lagi pak,kepada masalah siapa yang harus memulai....pikirkan pak! jika semua harus dimulai dari yang kecil.
jika hari ini, seorang pencuri, penjahat pembohong dan penipu berhenti melakukan aksinya ,maka bisa dipastikan mereka tidak makan hari ini,sehari mungkin bisa ,tetapi tidak untuk hari hari selanjutnya!!, dan akan lebih berat lagi ketika mereka pulang dan melihat botol susu anaknya hanya berisikan air putih! serta menyadari bahwa dia tak bisa membahagiakan keluarganya!, tetapi beda jika para pejabat yang korupsi itu berhenti berkorupsi,dia tetap saja makan enak dan masih jauh dari hidup kekurangan!.

JADI KESIMPULAN SAYA , DARI ATASLAH SEMUANYA DIMULAI,BERHENTI MERUGIKAN HAK HAK DAN KEWAJIBAN RAKYAT DAN BANTULAH YANG ADA DIBAWAHMU,KARNA KITA HIDUP,BUKAN UNTUK BERTAHAN HIDUP MELAINKAN BAGAIMANA MENGHIDUPI ORANG LAIN".

source : http://www.facebook.com/#!/notes/permana-reza/yang-harus-memulai-perubahan/10150122787312928?notif_t=note_reply

Tuesday, March 1, 2011

Menyikapi Kritik

Pada beberapa waktu lalu bangsa Indonesia seperti mendapatkan hiburan baru. Baik melalui media cetak maupun elektronik, kita dapat melihat para wakil rakyat saling bersitegang mempertahankan pendapat masing-masing.  Sementara  itu, di luar gedung  dan di beberapa tempat, terjadi demontrasi  masih dalam topik yang sama. Banyak sikap dan tindakan yang dinilai tidak sepantasnya dilakukan. Tidak mencerminkan tindakan seorang yang berpendidikan terlebih sebagai pengemban amanah.
Melihat fenomena tersebut, saya teringat sebuah cerita populer yang sering dinisbatkan pada seorang waliyullah, tokoh bijak Lukman Al Hakim yang namanya diabadikan dalam AlQuran.
Pada suatu hari beliau bersama putranya  mengadakan perjalanan jauh membawa seekor keledai yang masih muda, kuat, dan tegap. Keduanya menaiki keledai tersebut dengan  berboncengan menyusuri jalan-jalan kampung mengingat panas yang begitu terik waktu itu.
Pada sebuah kampung, seorang penduduk berkata,”Lihatlah teman-teman orang yang tidak mempunyai rasa belas kasih kepada makhluk. Mereka tega menaiki keledai dalam perjalanan yang begitu melelahkan, bukankah seharusnya mereka bergantian menaikinya?”
Mendengar komentar itu, hati Lukman Al Hakim merasa tidak nyaman. Ia kemudian turun dan menyuruh putranya tetap di punggung keledai, sementara beliau berjalan di  sampingnya sambil memegang tali kekang keledai.
Ketika melewati sebuah kampung lain, giliran seorang penduduk berkata,” Lihatlah , betapa buruk akhlak pemuda di atas punggung keledai itu,  tidak mempunyai rasa belas kasihan kepada ayahnya.  Dia enak-enak naik keledai, sedangkan ayahnya yang sudah tua disuruh berjalan, bukankah seharusnya ia yang berjalan?”
Ringkas cerita, dalam perjalanannya berkali-kali Lukman Al Hakim dan putranya menuai komentar dari orang-orang yang dilewatinya. Cerita ini diakhiri dengan nasehatnya kepada putranya, “Nak, engkau dapat menghitung sendiri berapa kali tindakan kita dianggap keliru, maka lain kali ketika kau berjalan dengan arah dan tujuan yang jelas, janganlah mudah menghentikan langkah hanya karena komentar orang”.
Cerita di atas sering juga dinisbatkan pada tokoh sufi nyentrik Nasruddin Hoja. Sesuai dengan kenyentrikannya,  cerita itu berakhir setelah Nasruddin dan putranya mencoba meneruskan perjalanan dengan memanggul keledai yang tentunya merupakan tindakan  yang sangat konyol.
Sebagaimana yang disampaikan Lukman Al Hakim, perilaku kita tidak akan pernah lepas dari kritikan dan komentar orang lain.  Kita memang harus selalu sadar, no body’s perfect, tak ada seorang pun sempurna tanpa cela sehingga kita harus bersikap terbuka menerima saran dan kritik dari orang lain.
Akan tetapi kita juga harus teguh memegang prinsip yang kita yakini kebenarannya dan lebih luas kemaslahatannya,  yang bukan semata mata karena menuruti ego pribadi.
Seorang filosof, As Shirazi berkata, “Tidak ada orang yang melemparkan batu kearah pohon yang tidak berbuah.” Setidaknya dua pelajaran dapat kita petik dari perkataan itu. Yang pertama, semakin tinggi kedudukan seseorang,  akan semakin besar kemungkinan menuai komentar dan kritik. Dia harus menyadari posisinya, bersiap-siap sebelumnya, agar terhindar dari tindakan-tindakan naif.
Dalam filosofi Jawa disebutkan, “Aja gumunan, aja kagetan, nanging ya aja dumeh!”. Artinya, jangan mudah terpesona, jangan mudah kaget, tapi juga jangan berarti kita takabur anti kritik, dan mengandalkan kekuasaan, apalagi menghalalkan segala cara demi tujuan pribadi.
Yang kedua, tentang orang yang melempar buah. Ada kalanya orang yang melempar sebuah  kritikan yang membangun mampu menunjukan kelemahan dan kesalahan sekaligus memberi solusi yang cerdas. Tujuannya untuk kemaslahatan umum, tanpa niat menghancurkan. Yang kedua, adalah tipe pengkritik dengan cara membuka aib, menunjukan kelemahan-kelemahan orang lain dengan maksud menjatuhkan, bukan semata-mata menegakkan kebenaran.
Ada pula yang pandai memberikan kritikan bahkan hujatan akan tetapi tidak mampu memberikan   solusi, hanya mencari sensasi yang justru memperkeruh suasana.
Sebagai umat beragama, bangsa Indonesia seharusnya berbeda dari bangsa bangsa lain. Dalam Islam, silaturahmi untuk menjaga persatuan dan kesatuan amat ditekankan. Terlihat betapa nyata Nabi Muhammad SAW mengupayakan kerukunan umat dan penghormatan akan hak-hak orang lain, sebagaimana dalam sabdanya, “Barang siapa menyakiti orang kafir dzimmy, akulah musuh orang tersebut. Dan barang siapa menjadikan aku sebagai musuhnya, akan kukalahkan dia di hari kiamat.”

(source : www.harianjogja.com)